JAKARTA - Mulai Juni mendatang, empat personel Pas Band akan mulai bekerja menggarap album terbaru mereka. Menurut Yuke, mereka siap mengemas musik yang membuat orang pusing.
“Albumnya gila-gilaan, musik kami memang tidak populis dan jauh dari kesan mainstream. Jadi kita mengalir saja dengan melawan musik mainstream yang ada saat ini,” papar Yukie ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, Kamis (15/4/2010).
Rencananya, album tersebut akan dirilis akhir tahun ini. “Kita akan efektif bekerja mulai bulan Juni. Jadi saat ini kita belum punya lagu baru sampai saat ini,” kata dia.
Yukie mengatakan Pas Band sengaja membuat lagu yang bikin pusing dengan kemasan yang aneh. Mereka tak memikirkan apakah album tersebut akan laku atau tidak.
“Diterima syukur, enggak diterima, ya enggak apa-apa,” tandasnya.
Musik yang diusung tak jauh dari genre rock. Pas Band memiliki mimpi suatu hari bisa bekerja sama dengan banyak musisi.
“Misalnya ketemu ada drumer yang main gila, kita ajak. Atau gitaris jazz yang mainnya aneh, kita ajak. Kalaupun ini jadi album terakhir, kita mau album ini dikenang karena kegilaannya,” pungkas Yukie.
Pas Band Garap Album yang Bikin Pusing
Label: PAS BAND
Pas Band Tolak Tren RBT
JAKARTA - Pas Band lama tak eksis. Sebenarnya mereka masih tetap bermusik, meskipun diakui jika tahun-tahun ini adalah masa sulit bagi mereka. Apa alasannya?
“Kondisi musik Indonesia sekarang sedang laku-lakunya ring back tone dan kami enggak mau ikuti tren itu. Itu yang jadi kendala,” ujar vokalis Pas Band, Yukie, ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, Kamis (15/4/2010).
Dia mengatakan masing-masing personel Pas Band diberi kebebasan untuk berkreasi. Itulah faktor yang menyebabkan kemampuan musik mereka tetap terasah sebagai musisi.
“Tapi terus terang, saat ini adalah masa tersulit dan terberat sepanjang perjalanan Pas Band,” curhatnya.
Yukie mengakui jika kondisi musik Indonesia menjadi semacam pembunuhan karakter buat mereka. Apalagi Pas Band juga punya banyak waktu senggang dan sibuk masing-masing, sehingga membuat mereka senggang.
“Dan ternyata, secara personal masih laku dijual. Beng-Beng jadi produser, Trisno sibuk usaha merchandise, Shandy sibuk MC dan penyiar radio, dan sama saya juga,” kata dia.
Namun, Yukie membantah jika Pas Band akan bubar karena kerenggangan seperti saat ini. “Saya pribadi tidak mau berpikir terlalu jauh sampai bubar. Toh bukan kami yang buat seperti ini,” ketusnya sinis.
Label: PAS BAND
Pertengahan Tahun, PAS Band Gebrak Bandung
BANDUNG - Grup Musik PAS Band akan menggebrak publik Bandung pada pertengahan tahun ini. Konser ini sekaligus mengenalkan album baru yang rencananya diluncurkan Mei ini.
"Insya Allah pertengahan tahun kita akan konser di Bandung," ujar Yukie sang vokalis di sela acara 200 tahun Kota Bandung di Lapangan Gasibu, Rabu (10/3/2010).
Yukie mengatakan, album baru PAS Band bukan hanya bernuasa musik cadas, namun akan memadukan genre musik baik country, pop dan perpaduan musik lainnya. "Konsep album adalah konsep cerita dengan 14 babak dan 14 lagu," ujarnya.
Dalam merampungkan album bertajuk ‘Dokter Slem’ ini, mereka dibantu sedikitnya 22 seniman, sineas, kartunis, dan berbagai kalangan yang ingin membuat grup bandnya terus berkarya. "Semua gratis. Mereka siap membantu merampungkan album baru ini," ujarnya.
Yukie sendiri mengaku sudah gereget ingin menghibur fans PAS Band dengan membawakan seluruh lagu. Hal yang sama juga dikatakan Trisno, bassis PAS Band.
"Materi albumnya sudah hampir rampung. Meski kami banyak panggilan manggung pribadi dan bisnis, rumah besar PAS tetap tak dilupakan," pungkas Trisno.
Label: PAS BAND
Paser dan Punk Rock Sempat Adu Jotos
Bandung - Adu jotos sempat terjadi saat PAS Band tampil di Kampung GaSS sekitar pukul 17.00 WIB. Perkelahian terjadi antara satu orang Paser (sebutan untuk fans club Pas Band) dan tiga orang yang diduga dari komunitas punk rock.
Namun kejadian tersebut tidak sampai menggangu kelangsungan acara. Salah seorang saksi Ganjar (18), Paser dari Cirebon mengatakan adu jotos terjadi saat PAS Band sedang manggung.
"Biasalah sikut-sikutan terus ngerasa enggak enak, seorang anak Paser dikeroyok oleh tiga orang punk rock," tutur Ganjar, saat ditemui di area Lapangan Gasibu, Rabu (10/3/2010).
Ganjar sendiri mengaku tidak tahu menahu siapa tiga orang yang mengeroyok anggota Paser yang juga tidak dikenalnya tersebut. "Saya tidak tahu siapa yang dikeroyok tapi kalau tapi kita sama-sama pakai kaos PAS Band," tuturnya.
Menurut Ganjar, korban mengalami luka di pelipis dan mengeluarkan darah. Peristiwa pengeroyokan terjadi di sayap kiri panggung.
Selepas itu, para anggota Paser merengsek ke pagar pembatas dan meminta penyelesaian dari pihak kepolisian yang berjaga. Menurut salah seorang petugas kepolisian yang enggan disebutkan namanya, pihaknya sudah mengamankan pihak-pihak yang berseteru.
Sumber : http://bandung.detik.com/read/2010/03/10/190517/1315712/486/paser-dan-punk-rock-sempat-adu-jotos
Label: PAS BAND
PAS BAND BAKALAN MERILIS ALBUM BARU????
Ternyata setelah di telusuri dan searching searching di mbah google ada dua versi tentang Pas band meluncurkan album baru versi Viva news
VIVAnews - Band yang beranggotakan, Yukie (Vokal), Trisno (Bass), Bengbeng (Gitar) dan Sandy (Drum) ini akan merilis album baru.
Konser PAS band di Gasibu Bandung, 10 Maret 2010 lalu sempat menuai kehebohan dan memakan banyak korban yang jatuh pingsan. Grup band dengan jenis musik rock, hip hop dan punk ini sedang menjalani proses penggarapan album baru.
Sampai saat ini, pengerjaan albumnya tersebut sudah merampungkan empat lagu. Para personel band-nya sendiri mengaku masih kurang total dalam menggarap album ini. Dikarenakan albumnya kali ini mengalami sedikit perubahan konsep.
Judul lagu "The Perfect" juga sudah dipersiapkan sebagai hit single di album ini. Di dalam album PAS band teranyar nanti, akan memuat 10 lagu baru, dengan benang merah musik yang masih sama.
Sumber : http://showbiz.vivanews.com/news/read/135803-pas_band_menggarap_album_baru
INFO DARI MILIS
Bandung - Teriakan dari para Paser (sebutan untuk fans club PAS Band) dalam Kampug GaSS, Rabu 10 Maret 2010, menandakan kerinduan mereka pada band yang pernah menggebrak Bandung dengan semangat indienya. Tapi sayang, mungkin mereka harus menyimpan lama kerinduan karena para personel PAS Band sudah anteng dengan kesibukan masing-masing.
Seperti dinyatakan Yukie, sang vokalis, tahun ini adalah tahun terberat bagi PAS Band karena para personelnya sudah kembali sebagai pribadi. Misalnya Bengbeng yang sibuk sebagai produser, atau Sandy yang sibuk nge-MC dan penyiar. Yukie sendiri mengaku sedang fokus pada sebuah proyek yang disebutnya proyek mimpi.
Terdorong dari semangatnya sebagai musisi untuk memberikan sesuatu bagi musik Indonesia. Mimpi itu akan diwujudkan dalam sebuah album yang bertajuk dr Slam. Sebuah album yang enggan disebutkan Yukie sebagai album solo karena dikerjakan secara keroyokan oleh 22 orang seniman.
"Tendo Stars Project adalah proyek mimpi saya," tutur Yukie saat ditemui di sela-sela Kampung GaSS.
Album ini, lanjut Yukie sudah dikerjakan sejak tahun lalu. Banyak yang terlibat dalam penggarapannya, bukan cuma musisi tapi juga pelukis, sastrawan, sineas, juga animator. Dan mereka bekerja dengan sukarela untuk penggarapan album ini.
Beda dengan album pada umumnya, dr Slam seperti sebuah rangkaian cerita 14 babak atau 14 lagu yang mengisahkan perjalanan manusia dari lahir sampai 35 tahun. Tokoh utama cerita ini lelaki dari kampung bernama Slamet.
"Makanya album ini dinamakan dr Slam karena dia juga nanti jadi dokter," terang Yukie.
Bulan April, dr Slam baru akan diluncurkan. Untuk bulan ini baru akan mengelurkan ring back tone (RBT) single berjudul 'Anak Kampung', yaitu dari babak ke-5 atau sekuel ke-5 dari 14 babaknya dr Slam.
(ema/bbn)
Sumber : http://launch.groups.yahoo.com/group/Pasband_Impresi/
Jadi kemungkinan yang di maksud kan tempointeraktif itu TENDOSTARS salah satu band project nya kang Yuki bersama kang Richard Mutter..
yaaahhh kita tunggu saja kabar baik dari mereka.....
yangg penting mahhh tetep PAAASSSSSS....
dimana PAS berada disitu PASERS ada !!!
RAISE HIGH OUR HANDS AND SHOUT OUT LOUDS WE WANT PAS !!!!!!!!!!!!
Label: PAS BAND
Paser Pertama Di Kolong Langit

Suatu siang menjelang sore, antara tahun 1995, dua sahabat saya, alm.Yadi SS dan Dhani Komo, tiba-tiba muncul di kampus tempat saya kuliah tanpa ada janji terlebih dulu. Tentu ada yang istimewa, mengingat kampus Politeknik, yang terletak jauh dari kota Bandung itu mereka sambangi pas waktu enak-enaknya tidur siang. Benar saja, mereka mengajak saya untuk menghadiri Konser Pesta Pelajar, yang menurut mereka line-up-nya bakal enak dipakai headbang dan ber-moshing ria. Hari itu kebetulan saya bawa kaos Motley Crue di kantong, rencananya untuk salin kemeja sepulang kuliah, yang memang daripada bikin nyaman lebih banyak bikin saya gerah waktu mengikuti studi. Kaos Motley Crue ini dibawa tepat pada waktunya, sehingga saya langsung sepakat dan menyanggupi ajakan mereka. Sialnya, saya tidak bawa Celana Jeans. Ya, sudah, dengan celana katun dresscode mahasiswa Politeknik jurusan Niaga, dipadu-padankan dengan kaos pendek hitam Motley Crue-Dr. Feelgood, saya meluncur cabut dari kampus. Tidak lupa, menitipkan pesan kepada salah seorang kawan untuk memalsukan tanda-tangan saya pada saat mata kuliah terakhir, yang memang dibimbing oleh dosen “baik hati”, yang menurut pengalaman jarang sekali mengabsen mahasiswa yang hadir. Diantara seluruh line-up yang disebutkan bakal memeriahkan Pesta Pelajar sore itu adalah : Pas Band. Gara-gara nama band ini yang disebut paling pertama, tanpa ba-bi-bu saya langsung menyanggupi ajakan Yadi dan Dhani, sambil menafikan jadwal kuliah yang sebetulnya masih padat mulai ba’da ashar hingga menjelang maghrib itu. But, apa mau dikata, saya sudah tidak sabar menyaksikan aksi demi aksi yang bakal ditampilkan “Faith No More from Kota Kembang”, yang baru saja merilis album kedua In (No) Sensation. Sebagai Paser sejati, tentu saya tidak boleh ketinggalan menyaksikan aksi Richard, Yukie, Bengbeng dan Trisno di sore yang bakal meriah itu.
Sayalah Paser sejati, mengingat, saya menjadi Paser, jauh sebelum istilah Paser itu diciptakan untuk mengidentifikasi para fans Pas Band. Sejak Richard Mutter, eks-drummer dan founder Pas Band, masih “mendua” antara Sahara dan Pas Band, saya sudah kerap menyimak gigs demi gigs mereka, baik diatas pentas maupun tampil secara live di Radio. Pertamakali tahu band ini, waktu mereka diundang tampil live di Radio GMR, membawakan nomor evergreen hits dan nomor legendaris yang menandai sejarah awal musik independen dan underground Indonesia : Dogma. Nomor itu lain dari kebanyakan corak musik rock maupun alternative yang pernah dimainkan di Bandung, bahkan di Indonesia. Ketukan drum-nya, lengkingan vokal-nya, raungan gitar-nya, dan cabikan bass-nya, menjadi santapan baru yang sensasional bagi nafsu apresiasi saya. Bak gayung bersambut, saya dan Yadi SS, selesai menyaksikan beberapa gigs dan mendengar lagu Dogma via GMR Radio, beberapa minggu setelah itu malah menjadi saksi langsung waktu pertamakali para pramuniaga toko kaset Aquarius, menata kaset mini album Pas Band, 4 Through The Sap (Februari 1994). Girang luar biasa kami berdua, waktu menyadari siapa yang sedang memerhatikan dan sedang ikut membantu para pramuniaga menata kaset yang juga memuat best-cut, Here Forever, itu. Ya, yang berdiri dibelakang pramuniaga bertubuh kurus berkumis tipis itu adalah dua pahlawan Indie-Label Indonesia, Samuel Marudut (R.I.P) dan Richard Mutter. Niat untuk membelanjakan sisa uang jajan yang semula akan digunakan untuk melengkapi koleksi rekaman Megadeth-pun berubah, jadi membeli kaset mini album yang kini jadi monumental dalam sejarah musik negeri ini. Tentu saja, tidak hanya sekadar beli, tapi kami berdua yang masih remaja tanggung ketika itu, langsung menghampiri Samuel Marudut dan Richard Mutter untuk meminta tandatangan.
Samuel yang pertama-tama saya minta untuk menandatangani mini album itu, sambil tersenyum lebar mengangsurkan kaset yang izin industrinya masih atas nama, CV.Tropic, kepada Richard. “Tandatangan tuh, suporter Pas Band pertama nih...”katanya akrab. Sang drummer yang ternyata kalau berdiri berpostur jangkung itu, langsung meraih sampul kaset dan menandatangani cover bagian dalam, dimana terpampang foto keempat personil Pas (dari kiri ke kanan : Yukie, Bengbeng, Trisno dan Richard). Dalam foto cover bagian dalam itu, para personil Pas Band belum ada yang menjadi “Rice Man” (sebutan saya untuk orang yang gemuk), seperti sekarang. Semuanya masih tampak langsing dan kurus- terutama : Yukie dan Bengbeng. Mungkin, sebagaimana dipaparkan secara merendah oleh Richard saat menandatangani cover kaset saya, waktu itu mereka masih demikian pas-pasan (hehehe). Kelakaran itupun ditimpali dengan akrab oleh Samuel Marudut, yang entah bercanda atau tidak, mengatakan,”Itulah makanya, band ini dikasih nama Pas Band. Segalanya serba Pas...hihihi.”
Merasa bertemu dengan pribadi-pribadi yang hangat dan akrab, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka berdua, tentang pada range mana Pas Band berjalur sebetulnya.”Mereka aja gak tahu sedang maenin musik apa...”kata Samuel Marudut masih dengan senyum dan candanya yang khas. Hal itu dibenarkan oleh Richard, yang sore itu mengenakan kaos hitam lengan panjang, bahwa para personil Pas Band datang dengan latar belakang berbeda, namun dalam proses kreatif-nya berusaha meleburkan semua latar belakang menjadi corak khas Pas Band.”Ada yang suka Metallica, Rush, Pearl Jam, Red Hot, musik-musik classic rock ama musik-musik tahun 80-an di Pas.”jelas Richard.”Semua unsur itu kita maenin, dan ketika itu jadi, ya begitulah, jadinya musik Pas Band.” Richard kemudian memaparkan dengan panjang-lebar, hendak kemana arah musik Pas Band pada jangka pendek dan jangka panjangnya. Richard bilang dia bakal melibatkan juga Arian ‘Puppen’, bakal memasukkan berbagai beat-beat progresif ke musik Pas, yang buat remaja tanggung seperti saya dan Yadi, merupakan ide-ide yang sangat tak terbayangkan. Tidak terasa, obrolan kami berempat yang hangat itu nyaris melewati waktu setengah jam. Dikanan-kiri kami, beberapa orang bergantian menatap Richard dan Samuel, barangkali mengira-ngira : “Pemain band mana mereka ini ?” Hehehe, menurut Yadi SS, penampilan Richard Mutter dan Samuel Marudut sore itu lebih mengarah kepada musisi Jazz daripada musisi Rock. Selesai obrolan yang didominasi oleh kelakaran Samuel dan paparan ramah dari Richard itu, kamipun berpisah diiringi pesan pendek Samuel,”Dukung terus Pas Band ya...”- sambil mengacungkan jempolnya. Ah, kenangan manis yang sungguh pahit dikenang, ketika saya dan alm.Yadi SS mendengar berita berpulangnya Bang Samuel, yang diumumkan menjelang berkabungnya Radio GMR selama sehari-semalam untuk menghormati kepergian sang Music Director, yang komposisi Art Rock-nya Topeng, sempat bikin saya yang masih bau kencur bertanya-tanya,”Aliran apa ya, kok lirik sama musiknya aneh begini ?”
**
Balik lagi ke Pesta Pelajar 1995 di GOR Saparua Bandung...
Saya, Yadi dan Dhani, tiba di GOR Saparua setelah sebelumnya menunaikan shalat ashar di Masjid Tentara (begitu kaum underground yang muslim dan rajin sholat menjuluki masjid depan GOR Saparua, yang memang terletak di halaman Komando Logistik Daerah Militer Silihwangi). Saya lupa apa saja yang kami saksikan sebelum Pas Band tampil waktu itu. Yang jelas, kami sempat memergoki seorang Aa-Aa tetangga Dhani, yang sore itu menggaet wanita bukan istrinya, di lapangan Gelora legendaris dalam sejarah musik underground kota Bandung. Dhani berkelakar, biar gak kepergok istri, jadi selingkuhnya sambil nonton Pas band, katanya. Selesai kami terpingkal-pingkal, menyaksikan sang Aa yang pura-pura tidak melihat waktu bersitatap dengan kami, nama Pas Band-pun disebut-sebut oleh sang Master of Ceremony. Wah, waktu headbang dan ber-moshing ria telah dekat, bisik hati saya. Kami bertiga yang kompak menggunakan stelan hitam-hitam, segera merapat menuju ke bibir panggung, yang telah dihuni oleh beberapa remaja berambut Mohawk, banyak metal head berambut panjang terurai, dan beberapa orang lagi yang mirip seperti kami bertiga : berusaha tampil seperti anggota Skin-Head, walau kulit agak gelap dan hidung jauh dari mancung. Tak berapa lama, Yukie-pun menyapa penonton, dan tak berapa lama pula, intro Gangster Of Love mempersatukan para Paser yang dulu masih ratusan jumlahnya itu, dalam ritual : moshing & headbanger. Salah satu hal teredan dan berkesan yang saya lakukan saat itu adalah, pas lagu Dogma jingkrak-jingkrak sambil memanggul seseorang berambut Mohawk, yang setelah konser usai baru saya sadari dia seorang, perempuan. Aksi rusuh tapi tertib dari para Paser generasi awal itu, mencapai titik kulminasinya disaat Pas Band membawakan best-cut dari album kedua, In (No) Sensation, yaitu : Impressi. Pahlawan kami, Richard Mutter, telah melepas kausnya malam itu. Ada dengung kibord mendesiskan intro Unforgiven, sementara dari balik perangkat drum-nya Richard melambai-lambaikan tangan sambil setengah berteriak : “...Metallica, metallica, metallica !” Untuk beberapa saat para Paser tercekam dalam hening. Bulu kuduk saya merinding mendengar intro nomor balada hits pertama Metallica itu. Keringat terus mengaliri tengkuk, sementara lighting telah digelapkan. Pelan-pelan cahaya lampu berwarna putih terarah pada tempat dimana Richard Mutter bersemayam, dan tiba-tiba cahaya itu pecah ketika sang drummer menghentakkan drum intro pembuka Impressi.”Duk tek duk duk duk tek...”dan para Paser-pun kembali larut dalam moshing, bertepatan dengan raungan riff yang dimainkan Bengbeng, dan hampir bertepatan juga waktunya dengan robeknya bagian pantat celana katun saya. Ah, saya acuh saja. Toh, dalamannya pakai celana pendek kain model Eddie Vadder, yang setelah konser sempat dikomentari oleh Yadi, kenapa gak dari tadi saja saya pakai stelan demikian.
Dan aksi Pas Band dimalam Pesta Pelajar 1995 itupun berakhir pada pukul 9 lebih...
**
Pertemuan saya dengan Richard Mutter dan Samuel Marudut, aksi Paser generasi awal yang super-heboh di malam Pesta Pelajar ketika saya justru baru memasuki tahun pertama sebagai mahasiswa itu, adalah sekelumit kenangan indah dalam kisah persahabatan saya dengan alm. Yadi SS. Yadi, selain penggemar berat Arry Yanvar Roxx dan Ossa Ahmad Voodoo, adalah penggemar berat Richard Mutter, semenjak sang drummer ‘icikibung’ di dunia musik rock bersama, Sahara, hingga Pas Band. Yadi pernah berhari-hari ngulik teknik yang ditampilkan Richard, saat ia bermain di lagu “Dunia”, lagu yang ia mainkan bersama Sahara, dan membuat ia didapuk sebagai penerima anugerah Best Drummer dari Festival Rock Indonesia versi Log Zhelebour, tahun 1993. Ketika kami sudah tidak rutin nge-band, ketika album Indie (V) Duality keluar, alm.Yadi sempat memaksa saya untuk membawakan nomor-nomor Deskripsi, Anak Kali Sekarang, Schiebung Des Madchen, pada kesempatan iseng-iseng latihan di studio. Saya bilang, “hese...”, susah, sehingga jadi malas untuk ngulik lagu-lagu itu. Sobat yang sudah saya anggap saudara kandung itu sempat menolak berbicara atau berhandai-handai seperti biasa, ketika saya dengan halus menolak permintaannya. Penolakan yang sempat bikin saya menyesal juga, disaat saya mengenang saat-saat ia menyampaikan keinginannya, waktu hari pemakaman sobat saya tersebut pada medio awal tahun 2000. Seingat saya, sebelum wafatnya, kami pernah membahas soal isyu yang menyeruak bahwa, Richard Mutter cabut dari Pas Band. Seperti ia kesal waktu saya enggan membawakan beberapa materi dari Indie (V) Duality secara iseng di studio latihan, ia juga sempat kesal dan berseloroh, kalau suatu saat Pas Band bikin album tanpa Richard Mutter didalamnya, ia gak akan pernah mau denger atau beli album Pas Band lagi. Seorang teman, yang sempat mendengar alm.Yadi SS berseloroh demikian, menimpali,”ah, sakituna maneh...”(ah, sebegitunya kamu). Dengan tegas Yadi menjawab timpalan itu,”nya enya lah, urang jeung si edi teh Paser kahiji di kolong langit. Ceuk Samuel Marudut tah. Kaset ieu jeung Richard Mutter, saksina.”(ya, iyalah, saya sama edi kan paser pertama di muka bumi. Kata Samuel Marudut itu. Kaset ini dan Richard Mutter, saksinya)-jawab almarhum sambil mengambil lalu menyodorkan cover dalam mini album, 4 Through The Sap, yang memuat Richard Mutter signature dengan tanda waktu Februari’94. Saya sungguh tidak menyangka, sahabat dan saudara, yang tidak hanya mendampingi saya waktu menyalurkan hobi nge-band, tapi juga menjadi orang pertama yang memberikan saya teladan shalat berjamaah itu, pada akhirnya memang benar-benar tidak pernah mendengar kiprah Pas Band pada era 2001 hingga sekarang ini. Tapi, kalau dia tahu Sandy Andarusman yang menggantikan Richard Mutter, tampaknya dia nggak bakalan semarah waktu dengar Richard Mutter cabut dari Pas Band. Soalnya, Yadi-pun menyukai teknik repel Sandy, terutama pada bridge lagu hits U’Camp, bertajuk Bayangan.”Drummer U’Camp teh rapih repel jeung sound snare-na nya, Di...”begitu katanya, pada suatu sore di loteng saya, selesai mendengar album U’Camp ke-3, yang memuat salah satu lagu cadas Indonesia favorit saya, bertajuk : Pergi.
sumber : rockabilia.blogspot.com
Label: PAS BAND